Sabtu, 21 Oktober 2017

Bangun Minat Menulis pada Anak


Bangun Minat Menulis pada Anak
    Menulis dapat diartikan sebagai menuangkan ide atau gagasan yang ada di pikiran kita. Menulis merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh manusia hampir setiap hari. Jika ada opini yang menyebutkan menulis itu adalah hal yang sulit, maka pernyataan tersebut salah. Pada dasarnya semua orang bisa menulis karena merupakan hal yang mudah. Hanya perlu dua syarat agar kita dapat membuat sebuah tulisan. Yang pertama adalah tidak buta aksara, apabila kita tidak mengenal huruf maka menyusun sebuah kalimat akan terasa sangat sulit. Yang kedua adalah membaca.
    Minat menulis tiap orang memang berbeda-beda, ada yang memang gemar menulis ada juga yang sangat malas untuk menulis. Banyak faktor yang memengaruhi minat seseorang untuk menulis, salah satu yang paling kuat yaitu kemauan orang tersebut. Banyak hal yang menyebabkan manusia malas untuk menulis, diantaranya yaitu banyaknya tugas dari sekolah, terlalu sibuk bermain, dan sibuk bermain gadget.
    Tradisi menulis di Indonesia masih sangat rendah. Jika minat membaca rendah, minat menulis bahkan lebih sangat rendah. Membaca dan menulis memiliki keterkaitan, bagaimana tidak, jika membaca untuk referensi dalam menulis, lalu bagimana bisa seseorang menulis tanpa membaca terlebih dahulu. Di zaman sekarang ini, menulis seakan-akan menjadi kegiatan yang membosankan bagi berbagai kalangan, termasuk siswa Sekolah Dasar.
    Siswa SD pada zaman modern ini, sudah banyak yang menggunakan smartphone. Inilah yang menyebabkan semakin berkurangnya minat siswa dalam menulis. Mereka lebih senang menulis di smartphone yang mereka miliki, dibandingkan menulis di buku. Bahkan, untuk menulis diary pun mungkin mereka tidak pernah. Karena mereka lebih senang menuangkan isi hatinya di sosial media dibandingkan harus menulis di diary. Selain itu, mereka juga lebih sibuk bermain bersama teman-temannya dan menghabiskan banyak waktu untuk bermain, dibandingkan untuk menulis.
    Dalam hal ini, peran guru dan orang tua sangat diperlukan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Hal ini menegaskan bahwa, anak bisa diajarkan menulis dengan konteks hiburan. Seperti contohnya, anak diajarkan untuk menulis kreatif. Menulis kreatif bagi anak adalah menulis dalam konteks bermain dengan menulis, anak mendapatkan hiburan. Oleh karena itu, menulis bagi anak adalah mengungkapkan pengalaman-pengalaman menyenangkan yang pernah dialami melalui cerita, puisi, dan novel.
    Pengalaman-pengalaman berkesan inilah yang menjadikan anak untuk menulis kreatif, sehingga anak mengeksplorasi pengalaman-pengalamannya dalam bentuk tulisan. Dengan ini, minat menulis pada anak dapat meningkat.

Buka Jendela Dunia dengan Membaca

Buka Jendela Dunia dengan Membaca
            Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca merupakan jendela dunia, karena dengan membaca maka manusia dapat mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Semakin banyak membaca dapat dipastikan seseorang akan semakin banyak tahu dan banyak bisa, artinya banyaknya pengetahuan seseorang akan membantu dirinya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dikuasainya, sehingga seseorang yang banyak membaca memiliki kualitas yang lebih dari orang yang sedikit membaca.
          Manfaat dari membaca itu sangat banyak, diantaranya dapat menambah wawasan, memperkaya kosa kata, dan lain sebagainya. Namun, di zaman modern ini, sangat sedikit peserta didik yang memiliki minat membaca yang tinggi.  Sehingga, berdampak pada kurangnya pengetahuan atau luasnya wawasan peserta didik akan suatu hal. Padahal, membaca merupakan kegiatan yang sangat penting dan banyak manfaatnya.
            Apabila peserta didik membaca tanpa mempunyai minat baca yang tinggi maka peserta didik tersebut tidak akan membaca dengan sepenuh hati. Begitu juga sebaliknya, jika peserta didik tersebut mempunyai minat baca yang tinggi, maka peserta didik tersebut akan membaca dengan sepenuh hati. Apabila peserta didik sudah terbiasa membaca buku terus menerus, maka akan timbullah minat baca yang tinggi. Jika minat baca peserta didik sudah tinggi, maka peserta didik tersebut mempunyai minat belajar yang tinggi pula. Peserta didik yang gemar membaca, maka akan mempunyai pengetahuan yang luas. Berbeda dengan peserta didik yang tidak gemar membaca, maka hanya mempunyai pengetahuan yang sangat sedikit atau sangat sempit.
            Di indonesia kebiasaan membaca belum terlalu terlihat. Kebiasaan membaca hanya menjadi perilaku sebagian kecil masyarakatnya, sehingga kemampuan membaca masyarakat indonesia menjadi rendah. Seperti pada zaman sekarang ini, bisa dilihat bahwa minat baca peserta didik yang rendah, membuat mutu pendidikan dan kualitas pendidikan juga semakin rendah. Kurangnya minat membaca dikalangan peserta didik, menyebabkan merosotnya kualitas lulusan peserta didik. Karena jika peserta didik malas membaca, otomatis peserta didik juga malas belajar.
            Untuk itu, peran orang tua juga dibutuhkan untuk mengajarkan anak sejak dini, agar mulai terbiasa untuk membaca, dimulai dari membaca dongeng, fabel, komik, novel, dll. Sehingga pada saat ia nanti membaca buku pelajaran, ia sudah mulai terbiasa mempunyai minat baca yang tinggi.
            Adapun faktor yang mempengaruhi rendahnya minat baca peserta didik sebagai berikut :
1) Terbatasnya sarana dan prasarana membaca, seperti ketersediaan perpustakaan dan buku-buku bacaan yang bervariasi.
2) Situasi pembelajaran yang kurang memotivasi siswa untuk mempelajari buku-buku tertentu di luar buku-buku paket.
3) Meningkatnya penggunaan teknologi informasi elektronik.
4) Banyaknya keluarga yang belum menanamkan tradisi wajib membaca.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untu meningkatkan minat baca peserta didik sebagai berikut :
1) Mengenalkan buku-buku bacaan yang menarik perhatian anak seperti buku cerita atau buku bergambar.
2) Membuatkan perpustakaan di rumah (perpustakaan keluarga).
3) Sering mengajak anak ke tempat pusat-pusat buku, seperti toko buku, perpustakaan, dan lain sebagainya.

Pembiayaan Pendidikan

Pembiayaan Pendidikan
Setiap organisasi pasti membutuhkan biaya, termasuk organisasi pendidikan. Mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi pasti membutuhkan biaya. Salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap mutu dan kesesuaian pendidikan adalah anggaran pendidikan yang memadai. Masalah anggaran pendidikan ini akan menyangkut besarnya anggaran dan alokasi anggaran. Besarnya anggaran pendidikan di Indonesia tergolong sangat kecil. Namun, peningkatan anggaran pendidikan bukanlah perjuangan yang mudah karena menyangkut berbagai kepentingan politik. Dari anggaran yang sangat kecil itu timbul pertanyaan, apakah pemerintah benar-benar menempatkan investasi SDM pada prioritas utama dalam meningkatkan daya saing di era global? Namun, jika anggaran pendidikan berhasil ditingkatkan, pertanyaan kedua akan muncul, apakah kenaikan anggaran pendidikan yang tiba-tiba tidak akan melahirkan masalah yang buruk, terutama dilihat dari efisiensi penggunaannya?
        Sebagian besar anggaran pemerintah untuk sektor pendidikan diperuntukkan bagi sekolah-sekolah negeri, dan sebagian kecil adalah untuk subsidi bagi sekolah-sekolah atau perguruan tinggi swasta. Mengingat kemampuan yang masih terbatas, untuk mencapai proporsi, misalnya 5%, nampaknya masih diperlukan waktu yang cukup panjang. 
Agar peningkatan anggaran pendidikan memeiliki dampak positif terhadap pembentukan SDM perlu dilakukan dua hal berikut:
1) Pemerintah perlu melipatgandakan volume APBN itu sendiri, sehingga dengan prinsip alokasi yang berimbang antarsektor, akan dimungkinkan dapat tercapainya porsi yang 5% dari PDB.
2) Perlu peningkatan sistem perencanaan, pemrograman, dan manajemen pendidikan yang lebih efisien agar peningkatan anggaran berjalan searah dengan pendayagunaan anggaran yang lebih berdaya guna untuk peningkatan mutu pendidikan.

Masalah Pengelolaan Pendidikan

Masalah Pengelolaan Pendidikan
            Pengelolaan adalah komponen integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Pengelolaan pendidikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
         Di masa depan, pendidikan menghadapi tantangan untuk memperbesar dan memperkuat otonomi pengelolaan pendidikan sejalan dengan adanya kecenderungan kebijaksanaan desentralisasi pada Dati II (Kabupaten/Kota) yang sampai saat ini masih akan terus dikaji oleh Pemerintah berdasarkan Undang-Undang No.22/1999. Sejalan dengan desentralisasi dan otonomi ini, restrukturisasi anggaran pendidikan di sekolah merupakan salah satu strategi terpenting untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan yang pada gilirannya nanti akan memacu peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Pembinaan kemampuan daerah untuk dapat mengelola pendidikan di daerah masing-masing merupakan prasyarat mutlak untuk perwujudan desentralisasi pengelolaan pendidikan.
         Pada periode yang akan datang, pembangunan pendidikan perlu ditekankan pada pemberdayaan kekuatan sendiri melalui partisipasi masyarakat yang harus semakin diperluas akan menjadi lebih memiliki daya tahan terhadap berbagai goncangan dan gejolak yang mungkin terjadi. Salah satu modal terpenting yang dapat meningkatkan daya tahan adalah mutu dan efisiensi pendidikan. Sistem pendidikan yang bermutu dan efisien adalah yang mampu menghasilkan lulusan baik yang memiliki kemampuan akademik maupun kemampuan profesional pada semua jenjang. Perluasan serta peningkatan mutu pendidikan politeknik dan sekolah kejuruan perlu dilanjutkan dengan menata kembali perencanaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, dengan menerapkan sistem standardisasi mutu profesi dan keahlian yang juga berorientasi ke pasar.
          Mutu dan efisiensi pendidikan akan ditentukan oleh berkembangnya upaya-upaya inovatif yang berlangsung secara terus-menerus untuk pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh semua tingkatan manajemen pendidikan, dari mulai tingkatan makro nasional, makro kabupaten/kota, sampai dengan tingkat mikro satuan pelaksana teknis pendidikan (sekolah atau lembaga pendidikan). Untuk itu maka peranan pengelola pada semua tingkatan manajemen dan pelaksanaan pendidikan harus mampu memerankan fungsinya sebagai pengambil keputusan yang inovatif untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh masing-masing daerah atau pelaksana satuan pendidikan. 

Masalah Mutu Pendidikan


Masalah Mutu Pendidikan
     Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi semua orang pada era ini. Agar Negara kita tidak kalah dengan Negara tetangga, tentu saja pemerintah harus meningkatkan mutu pendidikan yang ada. Pendidikan di Indonesia masih tergolong menengah kebawah karena sistem dan sarana yang kurang memadai.
   Mutu pendidikan adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pemerataan dan perluasan kesempatan belajar. Mutu pendidikan yang baik akan melahirkan generasi muda yang baik pula. Bila generasi muda memiliki pendidikan yang baik mereka bisa membangun negara dengan baik pula dan tidak ketinggalan zaman. Asumsinya, perluasan dan pemerataan pendidikan yang bermutu akan mendorong terwujudnya kelompok masyarakat kelas menengah atau kelompok yang sering dianggap sebagai sumber penggerak pembangunan (critical mass). Sebaliknya, perluasan pendidikan yang tidak bermutu akan menimbulkan ledakan jumlah lulusan sekolah yang kurang produktif dan menjadi beban pemerintah, untuk menyediakan sekolah dan lebih jauh lagi kesempatan kerja.
   Beberapa masalah mendasar mengenai mutu pendidikan dapat dilihat dari beberapa faktor sebab berikut ini.
1) Proses pembelajaran terlalu berorientasi terhadap penguasaan teori dan hafalan pada semua mata pelajaran sehingga menyebabkan kemampuan belajar dan penalaran para peserta didik sebagai inti dari keberhasilan pendidikan kurang berkembang.
2) Kurikulum sekolah yang amat terstruktur dan sarat beban menyebabkan proses pembelajaran di sekolah menjadi steril terhadap keadaan dan perubahan lingkungan fisik dan sosial yang berkembang dalam masyarakat. Akibatnya, proses pendidikan menjadi rutin, tidak menarik, dan kurang mampu memupuk kreativitas murid untuk belajar serta guru dan pengelola pendidikan dalam menyusun dan melaksanakan pendekatan pembelajaran yang inovatif.
3) Hasil-hasil pendidikan belum dapat dinilai melalui sistem pengujian atau assessment yang terpercaya dan terlembaga sehingga mutunya belum dapat dimonitor secara teratur dan obyektif. Perbandingan mutu pendidikan anatar wilayah daerah , antarwaktu, dan antarnegara belum dapat dilakukan dan mengingat hasil-hasil penilaian mutu belum diukur secara teliti maka sistem penilaian yang berlaku belum dapat berfungsi sebagai sarana umpan balik untuk penyempurnaan proses pembelajaran.
4) Pembinaan proses jabatan guru masih dilakukan secara terpisah-pisah (fragmented) atau dengan kata lain, belum ditata di dalam suatu sistem yang integral. Hal ini menyebabkan mutu profesi jabatan guru belum dapat diandalkan sehingga akan berpengaruh terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Fragmentasi sistem pembinaan guru ini adalah gejala lama yang perlu dipadukan di dalam suatu sistem yang integral, seperti dalam kaitan dengan: pendidikan guru, pembinaan karier, perecanaan kebutuhan dan persediaan, kesejahteraan guru, serta pembinaan pelaksanaan tugas-tugas guru di sekolah. Pengelolaaan tenaga guru juga masih sangat sentralistis sehingga permasalahan guru di masing-masing daerah belum dapat dipecahkan secara tuntas sepanjang para pengelola daerah belum memiliki kewenangan untuk menyelesaikan masalah daerahnya masing-masing.

Internet dan Game Online seperti narkoba

Internet dan Game Online seperti narkoba
            Di zaman yang sekarang ini, hampir semua orang mengenal apa itu internet, mulai dari anak kecil, remaja, dewasa, sampai orang tua. Teknologi yang semakin canggih, membuat kita semakin mudah untuk mengakses internet. Hampir semua kalangan masyarakat, setiap harinya menggunakan internet untuk mencari informasi atau hanya sekedar untuk membuka sosial media. Namun, ada pula orang yang tidak mengerti dengan kecanggihan serba internet yang ada pada zaman modern ini, dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang teknologi tersebut dan dikarenakan tidak memiliki perangkat tersebut. Salah satu teknologi yang sering kita gunakan adalah HP, komputer, dan laptop.
Handphone (HP) merupakan alat komunikasi elektronik dua arah yang bisa dibawa kemana-mana dan memiliki kemampuan untuk mengirimkan pesan berupa suara. Dalam keseharian, kita tidak bisa lepas dari hp. Semakin maju teknologi yang ada, maka semakin canggih teknologi-teknologi di dunia ini. Berbagai merk Handphone, menawarkan segala kecanggihan yang ada pada hp tersebut, dengan segala spesifikasi yang membuat tergiur orang yang melihatnya. Handphone memiliki berbagai macam fungsi, selain handphone digunakan sebagai alat komunikasi, handphone juga digunakan sebagai media hiburan, media bisnis, dan lain-lain. Banyak orang yang merasa bosan, jika ia tidak mempunyai kuota. Di zaman modern ini internet seperti “belahan jiwa”. Mengapa demikian? Karena mulai dari anak kecil sampai orang dewasa, hampir setiap harinya selalu menggunakan internet. Jadi, jika ia tidak memiliki kuota, maka akan mencari cara untuk bisa akses internet, entah ia harus mencari wifi, minta ke temannya untuk menyalakan hotspot, atau bahkan sampai berhutang pulsa agar bisa memaketkan paket internet. Jika kita sudah memainkan hp, kita akan lupa belajar, karna terlalu asik bermain hp. Ini sangat menggangu dalam hal pendidikan. Yang seharusnya kita belajar 2-3 jam di malam hari, gara-gara hp kita belajar hanya 30menit – 1 jam saja. Kita lebih kuat untuk internetan, seperti membuka instagram, WA, line, dll, dibandingkan dengan membaca buku pelajaran.
Salah satu teknologi yang tidak bisa lepas dari tangan pelajar selain hp adalah komputer dan laptop. Semakin berkembangnya sistem pendidikan, membuat peralatan sekolah juga terus berkembang seiring berkembangnya zaman. Di era modern ini, laptop bukanlah benda asing lagi. Hampir setiap anak mempunyai komputer ataupun laptop, atau bahkan pernah menggunakannya. Tidak hanya pelajar, anak TK pun sudah banyak yang mahir mengoperasikan laptop. Laptop memang banyak manfaatnya, seperti mempermudah siswa melakukan riset, laptop berfungsi sebagai pengganti buku pelajaran cetak, dan lain sebagainya. Selain banyak manfaatnya, komputer dan laptop juga membawa dampak buruk terhadap pendidikan peserta didik. Seperti halnya, anak kecil sampai anak dewasa hampir setiap harinya menggunakan komputer ataupun laptop. Entah untuk kebutuhan mengerjakan tugas atau hanya untuk kesenangan pribadi. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah siswa SD - siswa SMA banyak yang senang nongkrong di warnet bersama teman-temannya, bukan untuk kepentingan sekolah (mengerjakan tugas), tetapi mereka bermain game online bersama teman-temannya. Game online yang paling sering saya lihat, yang mereka mainkan adalah Point Blank dan Dota 2. Jika mereka sudah main Point Blank dan Dota 2, mereka sering lupa waktu, karna terlalu asik bermain game tersebut. Sebetulnya tidak salah, jika mereka bermain game online tersebut, yang salah adalah kurangnya mengatur waktu, antara waktu belajar, dan waktu bermain. Mungkin mereka bermain game online untuk melepas penat, karena setelah seharian belajar di sekolah. Karena mereka hampir setiap hari berada di warnet, dan bermain game online tersebut, maka mereka kecanduan bermain game online tersebut dengan teman-temannya. Saya pernah mewawancarai teman saya sendiri, bertanya tentang apa asiknya bermain game online tersebut, lalu teman saya menjawab “game ini lagi banyak dimainin sama anak-anak cowok seumuran saya, emang seru sih, saya juga kalau udah pulang sekolah pasti langsung ke warnet, main sama temen-temen di warnet lebih seru, dari pada di rumah, walaupun di rumah juga ada komputer dan laptop”. Hal ini memicu malasnya peserta didik belajar, karena jika sudah di warnet bersama teman-temannya maka akan lupa waktu, apalagi untuk belajar.
Memang mengakses internet dan game online bisa membuat candu penggunanya, seperti narkoba. Jika tidak ada hp, internet, dan komputer, maka dunia terasa hampa, karena sebagian jiwa remaja ada di hp, internet, dan komputer.  Dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan, karena berkembangnya teknologi, membuat kita juga harus mengikuti perkembangan yang ada pada zaman modern ini.

USBN VS UN

USBN VS UN
       Mendengar kata Ujian Nasional atau biasa disingkat dengan UN, sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, terutama di kalangan pelajar. UN sudah tidak lagi menjadi sosok yang menakutkan. Sejak tahun 2015, UN sudah tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa. Kelulusan siswa sejak tahun 2015, ditentukan oleh sekolah. Dengan demikian, pihak sekolah dengan mempertimbangkan seluruh mata pelajaran, memutuskan apakah seorang anak bisa dinyatakan lulus atau tidak.
         Saya sering mendengar atau bahkan diantara kalian pun banyak yang sering mendengar,banyak orang yang mengatakan “Sekolah 3 tahun, tetapi kelulusan ditentukan oleh 3-4 hari saja”.
Maka sejak tahun 2015, UN bukanlah penentu kelulusan siswa, karena pendidikan selama 3 tahun memang tidak bisa diukur dengan hanya 3-4 hari UN atau seorang siswa dinyatakan lulus sekolah bila siswa itu lulus UN.
      UN tetap diadakan sampai sekarang, namun UN hanya untuk menjadi “peta sekolah” bagi pemerintah. Karena selama 3 tahun siswa sekolah, yang tahu kemampuan kognitif, perilaku, dan karakter siswa adalah guru di sekolah tersebut, bukan pemerintah. Jadi, memang lebih baik UN tidak menjadi penentu kelulusan siswa. Sekarang, yang menjadi penentu  kelulusan adalah USBN.
      Pada saat UN menjadi penentu kelulusan siswa, banyak siswa yang berbondong-bondong membeli Kunci Jawaban (KJ). Ketika sekarang ini USBN menjadi penentu kelulusan siswa, soal tersebut justru sudah bocor sebelum USBN dilaksanakan. Mengapa demikian? Karena soal USBN dibuat oleh sekolah, dan yang membocorkan soalnyapun guru dari sekolah itu sendiri.
       Oleh sebab itu, pemerintah seharusnya tidak memberi kewenangan penuh terhadap pelaksanaan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) pada sekolah. Dikarenakan tidak semua sekolah mempunyai prioritas yang sama baiknya dalam pendidikan.